The First Engineering Management In Indonesia

RSS
Propaganda MRI KITA BERANI!
Ghifari Fadiamanto & Mouline Septania Cindi

Propaganda MRI KITA BERANI!

Ghifari Fadiamanto & Mouline Septania Cindi

Propaganda MRI KITA BERANI!
Garindra Pasha & Serra Fionalita

Propaganda MRI KITA BERANI!

Garindra Pasha & Serra Fionalita

Propaganda MRI KITA BERANI!
Araffy Meidy Rizky & Septina Ryan Mayarani

Propaganda MRI KITA BERANI!

Araffy Meidy Rizky & Septina Ryan Mayarani

Propaganda MRI KITA BERANI!
Azmul Fauzi & Seyla Selvia

Propaganda MRI KITA BERANI!

Azmul Fauzi & Seyla Selvia

Propaganda MRI KITA BERANI!
Harriman Samuel Saragih & Annisa Shinantya

Propaganda MRI KITA BERANI!

Harriman Samuel Saragih & Annisa Shinantya

Propaganda MRI KITA BERANI!
Alexandrio Nababan & Lionita Irianti

Propaganda MRI KITA BERANI!

Alexandrio Nababan & Lionita Irianti

Propaganda MRI KITA BERANI!
Agung Setiabudi & Lusi Pratiwi

Propaganda MRI KITA BERANI!

Agung Setiabudi & Lusi Pratiwi

apa gelar sarjana MRI? suatu saat MRI akan membuat himpunan sendiri atau selamanya di MTI?

Anonymous

gelar sarjana lulusan MRI sama seperti lulusan teknik lainnya “Sarjana Teknik”. untuk himpunan sampai saat ini kami masih nyaman berada di MTI sebagai wadah kami berkarya dan berprestasi. :)

Kuliah Semester 4

Berikut ini adalah mata kuliah wajib yang harus diambil di program studi Manajemen Rekayasa Industri

1. Kalkulus 3

Seperti yang kita ketahui, Kalkulus 1 dan Kalkulus 2 sudah dipelajari pada tahun pertama kuliah di ITB, Kalkulus 3 ini melanjutkan kuliah sebelumnya dimana tidak semua prodi ITB mengambil mata kuliah ini. Bahan yang dipelajari masih berkaitan dengan integral, kurva, dan hal lainnya yang lebih kompleks lagi. Bobot matakuliah ini sebesar 3 SKS.

2. Ekonomi Industri

Ekonomi Industri menganalisis permasalahan ekonomi dalam organisasi industri secara lebih struktural dimana keterkaitan variabel penentu, struktur persaingan, perilaku pemain pasar industri dan performansi ekonomi dibahas secara mendalam dalam satu analisis menyeluruh. Bobot matakuliah ini adalah 2 SKS

3. Statistika II

Mata kuliah ini merupakan kelanjutan dari kuliah Statistika I yang diambil di semester 3 lalu. Saat mempelajari kuliah ini kita akan familiar dengan istilah Sampling Distribusi Variance, Interval estimate, Goodness of Fit,  Distribusi Uniform, Tes Homogenity, Analisa Korelasi, dan hal lain yang berkaitan dengan statistika. Bobot matakuliah ini 3 SKS.

4. Analisis Kuantitatif

Pada dasarnya kuliah ini adalah materi gabungan matakuliah Operational Research I dan Operational Research 2 yang dipelajari di prodi Teknik Industri. Berbeda dengan TI yang mempelajari keduanya di 2 semester yang berbeda, MRI mempelajari materi tersebut hanya 1 semester saja. Kuliah ini mempelajari optimasi dengan berbagai metode, masalah jaringan proyek, masalah transportasi, masalah penugasan, sistem antrian, dan lain sebagainya. Bobot matakuliah ini 3 SKS.

5. Ekonomi Teknik

Pada kuliah ini kita mempelajari Time Value of Money dimana nilai uang sewaktu-waktu bisa berubah, nilai uang saat ini tidak akan sama dengan nilai uang di tahun mendatang, untuk itulah perlu dipelajari ekonomi teknik agar bisa berinvestasi dengan baik. materi yang dipelajari berupa analisa future worth, analisa rate of return, analisa present worth, depresiasi, inflasi, dan lainnya. Bobot matakuliah ini 2 SKS.

6. Proses Industri Kimia

Kuliah ini mempelajari proses pada industri yang berkaitan dengan kimia. Seperti misalnya proses sintesis amonia, proses desalinasi, methanol, dan lain sebagainya. Kuliah ini diambil dari jurusan Teknik Kimia dengan bobot 2 SKS.

7. Proses Manufaktur

Kuliah ini mempelajari bagaimana proses produksi manufaktur, yaitu proses pembuatan barang mentah menjadi barang jadi. Hal yang dipelajari adalah proses permesinan logam, pengelasan, pengecoran, perakitan mekanik, dan lainnya. Ada juga praktikum dari matakuliah ini dari jurusan Mesin.

Mata kuliah yang berasal dari prodi lain adalah Kalkulus 3 dari Matematika, Ekonomi Teknik dari TI, dan praktikum Proses manufaktur dari Mesin, sisanya merupakan matakuliah baru jurusan MRI.

Entah Apa Judulnya

Ini bukan soal pembelaan.

Kita hidup bukan untuk menjalani hidup seperti yang lain. Kita masing-masing diciptakan berbeda.

Tulisan ini bukan sebuah pembelaan.

Mungkin masih banyak orang berpikir kenapa begitu bodoh ada orang-orang yang mau masuk jurusan yang apa sih di ITB ini, yap MRI. Banyak orang berpikir (termasuk saya pribadi angkatan pertama) ini jurusan apa, tiba-tiba di tengah waktu saya semester 3 anak tingkat 2, ada jurusan baru dan entah darimana asalnya tiba-tiba langsung dapet izin dari rektorat mengenai jurusan ini.

Kurikulum belum jelas, dosen juga masih dari prodi TI dan ada SBM pula, dibilang manajemen dan bukan teknik, segala macam pandangan negatif lebih banyak bermunculan ke permukaan dengan segala macam bumbu yang ada.

Terus ngapain ambil jurusan ga jelas?

Yah, sekarang mungkin bisa lah kita agak masuk ke materi yang berhubungan dengan prodi kita yang ‘agak’ mirip ini dengan ilmu TI. Ini merupakan paradigm dari sudut pandang saya pribadi, tidak mewakili pribadi atau kelompok manapun.

Dengan segala hormat.

Dalam prinsip bisnis ada istilah high risk high return. Dalam prinsip analisis keputusan, atau lebih dikenal dengan decision analysis ada dua tipe orang yaitu risk averter (penghindar resiko) dan risk taker (pengambil resiko). Jika anda belum mengerti, izinkan saya menjelaskan.

Sekarang bayangkan ada dua orang, satu tujuan. Tujuan mereka adalah lompat dari gedung dengan let’s say 1000 orang saksi menunggu dibawah gedung. Tapi dua orang ini memiliki perbedaan. Orang pertama harus loncat dari lantai 1 kebawah, dan orang kedua harus loncat dari lantai 10.

Sampai sini bisa membayangkan?

Kemudian  sekarang mereka udah loncat dan asumsikan kedua orang ini entah kek mana caranya, selamat.

Pertanyaan sederhana muncul dari kasus diatas, siapa yang risk averter, dan siapa yang risk taker?

Coba pikirkan dan jawab. Anda tau jelas pasti jawabannya.

Nah sekarang dengan asumsi kedua orang ini selamat, siapa yang dinilai lebih gila, lebih terkenal, lebih disegani oleh orang-orang yang menyaksikannya? Mana yang anda beri perhatian lebih jika melihat kejadian diatas?

Saya rasa jika saya orang normal, saya akan lebih terkejut dengan orang yang selamat dari lantai 10, karena seharusnya dia udah mati dari tadi dengan ketinggian setinggi itu. He should’ve freakin’ dead there.

Simpel bukan konsep diatas?

Permasalahannya adalah, kemungkinan si orang kedua yang jatuh dari lantai 10 mempunyai probabilitas jauh lebih besar untuk mati daripada orang pertama. Orang pertama memiliki 10% kemungkinan mati dan orang kedua memiliki kemungkinan 98% mati.

Coba bayangin anda jatuh dari lantai 10. Masuk akal saya rasa jika anda langsung mati daripada selamat. Tapi itulah risk taker. Dia pantas menerima penghargaan lebih dari orang-orang karena mengambil resiko lebih. Dia pantas menjadi lebih popular dibandingkan orang pertama. Saya rasa ini contoh kasus yang mudah dimengerti buat kita semua.

Sama halnya dengan MRI.

Saya ga mewakili satu angkatan, ini mewakili persepsi pribadi.

Saya tau bahwa saya telah menjadi risk taker dengan masuk jurusan yang baru pertama di Indonesia dengan segala kondisi yang istilahnya berpandangan negatif dan apa sih tentang jurusan ini. Saya telah mengambil keputusan untuk mau naik ke lantai 10. Memang kayanya udah gila. Tapi inilah konsep risk taker. Saya tau saya memiliki probabilitas untuk gagal setelah saya lulus dengan persentasi lebih besar daripada mereka yang memiliki jurusan yang lebih dikenal, memiliki akreditasi ABET, dengan segala macam pengalaman yang tertulis di CV mereka masing-masing. Oops tunggu dulu, saya samasekali ngga bilang jurusan saya atau jurusan saya hebat karena menjadi risk taker ya. Oh ngga samasekali. Saya apresiasi paling tinggi bagi jurusan-jurusan yang telah berdiri dari jaman kuda gigit besi.

Yang menjadi kesenangan pribadi saya, sekali lagi saya pribadi, adalah saat menjalani resiko tersebut. Dari kacamata saya sendiri, sebuah rasa orgasmetersendiri bagi saya saat menjalani hal yang berbeda 180 derajat dari budaya orang kebanyakan. Birahi saya muncul saat pengambilan resiko. Saya seorang risk taker. Saya merasakan kepuasan yang menggigit saat menemukan ujungnya setelah menjalaninya, tapi tetap berpikir positif sekalipun ujungnya saya ‘luka parah setelah jatuh lantai 10’.

Saya pegang satu prinsip nyeleneh sih, bahwa kalo kita hidup di dunia hanya seperti bunga yang sekarang ada besok udah ngga ada, yakin mau jadi bunga yang biasa-biasa aja?

Saya pengen beda dari yang lain. Saya pengen kayak Steve Jobs, Bob Sadino, Bill Gates, Arifin Panigoro, dan risk takers yang lain diatas (orang-orang diatas btw yang saya sebut risk taker semua loh, coba baca biografinya).

Bagi saya, ini bukan soal gengsi-gengsian, ini soal passion.

Udah banyak saya liat orang-orang yang menjadi risk taker dengan implikasi high risk high return menikmati return yang bukan cuma soal uang, tapi soal prestige. Ngerti konsepnya? Gampang ‘kan?

Ini bukan pembelaan.

Saya percaya kalo kucing liar di ITB aja dipelihara tiap hari sama sang Pencipta, bagaimana dengan kita ciptaan yang paling mulia di dunia? Yang punya akal budi, yang bermoral, yang sadar akan eksistensi keberadaan sang Pencipta diatas segalanya.

Ini bukan soal uang. Cinta uang adalah akar dari segala kejahatan.

Ini bukan soal sukses atau ngga habis lulus. Sukses bukan soal jurusan.

Ini bukan saya ITB kamu bukan ITB. Banyak orang kuliah cuma menambah daftar pengangguran di Indonesia.

Ini bukan pembelaan, kawan…

Ini sebuah bentuk apresiasi dan kekaguman seorang manusia yang memiliki birahipada dinamika kehidupan.

Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater.

Sebuah notes dari  Harriman Samuel Saragih (MRI’09) di Facebooknya

bisa dilihat juga di link ini

aisice:

ini video promosi yang bikin saya bilang ‘WOW’ dan mempengaruhi keputusan untuk masuk MRI @MRI_ITB

well, a group of workers is like an orchestra; a good manager is the conductor, he knows who’s out the tune, who’s playing with real commitment and who’s simply following the crowd.

- the Witch of Portobello

Matematika dan Engineering: “Kita Hanya Tinggal Menemukan f(x) nya!”

by Muhammad Yorga Permana

Hanya iseng menulis di tengah kepenatan soal KENMI 2011:

Inspirasi berawal di kelas TVST, pelajaran Matriks dan Ruang Vektor. Si dosen bilang bahwa matriks itu sebenarnya adalah bagian dari ruang vektor. Dia cerita tentang vektor berdimensi-4, 5, dan selanjutnya sampai dimensi ke n ternyata bisa dinotasikan dalam bentuk matriks.

Kenapa harus matriks? Ya iyalah, soalnya kalau vektor berdimensi 4, dia ga bisa dinotasikan dengan diagram kartesius, yang hanya terbatas pada dimensi x, y, dan z. Jadi goncanglah keimanan saya terhadap matematik, awalnya logika sederhana saya berkata bahwa vektor kan maksimal berdimensi 3.

Ya sudah saya nanya deh ke si dosen, “abstrak dong bu? kita mempelajari sesuatu yang tidak bisa divisualisasikan? Bagaimana kita dapat membayangkan ruangan 5 dimensi?”

Lantas si ibu menjawab, intinya mah dimensi dalam konteks ini ternyata tidak hanya terbatas oleh sesuatu yang bentuknya visual, contoh: dimensi waktu adalah dimensi ke-4 yang tidak bisa digambar dalam diagram x, y, dan z.

Nyambunglah saya. Dalam dunia Teknik Industri, optimasi untuk suatu produk pun tidak hanya bergantung pada maksimal 3 faktor saja. Kalo zaman SMA kan indikatornya biasanya ada 2, makanya divisualisasikan dalam bentuk diagram x dan y doang, itulah mata pelajaran yang namanya program linier.

Nah lantas kalo kita ingin menentukan titik optimum “berapa sih jumlah produk yang harusnya kita jual?”, indikatornya kan macem-macem (berdasarkan teori penawaran), dari mulai harga produk, harga barang substitusi, teknologi, visi perusahaan, jumlah pesaing, dan macam-macam lagi dari yang kualitatif hingga kuantitatif. Makanya menentukan titik optimasi itu tidak bisa menggunakan program linier yang hanya ada xyz doang, harus memakai matriks.

Inti Permasalahan

Jadi intinya begini kawan, matematika itu berbicara dalam sudut pandang ideal. Anak enginer yang cape mendefinisikan ke dalam realitas kehidupan. Hahaa…

Satu contoh lagi yang menarik, kemarin dalam perjalanan pulang dari Jakarta saya terlibat obrolan seru dengan seorang anak FT yang notabene engineer sejati (TI-MRI kan bukan enginer sejati).

Permasalahan saya buka dengan pertanyaan: “Mana yang lebih banyak, bilangan dari 0 sampai 1 atau dari 1 sampai takhingga?”

Pasti semua orang jawab yang kedua.

Tapi tunggu dulu kawan, saya bisa jawab bahwa jumlahnya sama. Jika saya punya fungsi

Dimana x berada di antara 1 sampai tak hingga, maka f(x) merupakan korespondensi satu-satu dengan daerah hasil dari 0 sampai 1. Iya ga? Jika x=2, maka y=0,5. Jika x=10 maka y=0,1. Jika x=100 maka y=0,01. Dan seterusnya. Maka saya bisa bilang bahwa jumlah bilangan dari 0 sampai 1 sama dengan jumlah bilangan dari 1 sampai tak hingga. Pembuktiannya ya kita tinggal mencari f(x) yang tepat.

Oke, sekarang apa hubungannya dengan engineering?

Gini, dari pernyataan matematika di atas saya yakin bahwa masa depan akan menarik. Materi yang sangat besar sebetulnya bisa kita kecilkan ukurannya. Permasalahannya tinggal menemukan f(x) nya saja.

Hehee

Iya ga?

Saya jadi berkhayal, pernah baca buku Dragon Ball? Ada pemeran utama namanya Burma. Dia anak seorang pengusaha, Capsule Corporation nama perusahaannya. Perusahaan itu jualan kapsul yang bisa berubah jadi benda-benda besar. Tinggal dipijit, bum, berubah deh kapsulnya.

Saya rasa mimpi mengubah segala jenis barang ke dalam capsule portable bukanlah hal mustahil. Matematika telah membuktikan itu. Jadi mobil, pesawat, kulkas, tinggal dipijit aja, nanti jadi kapsul kecil yang bisa dimasukkan ke dalam saku. Materi besar dimampatkan menjadi materi kecil menggunakan fungsi yang tepat.

Toh sesuatu yang lebih sederhana dari itu sudah membuktikannya. Sepeda lipat memakai prinsip pemampatan. Payung lipat juga. Trus film Transformer juga, robot bisa jadi mobil. Itu pakai pemampatan juga.

Semua bisa dilakukan jika berdasar kepada teori matematika di atas.

Lalu saya Tanya ke teman ku anak FT ini, mungkin ga kita bisa memampatkan materi besar? Mungkin ga kapsulnya Dragon Ball itu dibuat?

Jawabannya bisa, tapi sulit.

Karena kita berbicara pada tataran atom. Bagaimana caranya agar kita bisa memperpendek jarak elektron ke inti atom. Jika dianalogikan ukuran elektron adalah bola kelereng dan inti atom sebesar bola basket, maka jarak keduanya adalah sepanjang lapangan sepakbola. Jadi, bagian terbesar dari atom adalah ruang kosong. Iya ga? Naah, jika kita bisa memperpendek jarak keduanya, memperkecil ruang kosong itu, bayangkan suatu materi yang terdiri atas jutaan atom dapat dimampatkan berjuta-juta kali lipat.

Masalahnya belum ada teknologinya.

Epilog

Jadi kawan, inilah tugas kita, para engineer: mengaplikasikan ilmu-ilmu sains ke dalam tataran kehidupan nyata sehingga bermanfaat bagi umat manusia. Kita dapat mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin. Jangan pernah berkecil hati dan berputus asa: “bagaimana membuat mesin waktu, membuat mobil terbang, menentukan titik optimum penjualan suatu produk, dan sebagainya?”

Matematika telah membuktikan hal itu, masalahnya tinggal kita menemukan fungsi f(x) nya.

Haha…

Maaf kalau teu pararuguh,

Hanya refreshing menuju KENMI 2011!! Gerakan Inspiratif dan Sinergis Menyongsong Kemandirian Energi Indonesia

Salam ganesahaaaa, mulai…

Epidemi MRI. Harus Kita yang Memulai.

by Muhammad Yorga Permana

Ya teman-teman. Saya lagi males belajar POM, sumpahlah bosen pisan baca slidenya. Maka dari itu saya kan mencoba membawakan sebuah tulisan singkat mengenai fenomena sebuah jurusan yang baru saja terbentuk di ITB, yaitu jurusan kite: Manajemen Rekayasa Industri.

Sebenarnya tulisan ini bukan mau menjelaskan jurusannya, udah cukup lah di PMR. Tapi yang disoroti adalah masalah epidemi nya (epidemi= wabah). Gimana ke depannya MRI ini, seperti dibilang Our God Father Pak Ari, akan jadi trend. ditiru oleh banyak perguruan tinggi, diminati oleh banyak siswa SMA, dan amat dibutuhkan oleh berbagai perusahaan di Indonesia. Ia bakal mewabah, seperti penyakit SARS ato flu babi yang tiba-tiba muncul dan menjadi trend begitu saja.

Pertama kite liat ilmunya. Saya baru baca buku Tipping Point. Buku ini menjelaskan prinsip sederhana penyebaran suatu produk di pasaran yang meledak begitu saja. Seperti epidemi sebuah penyakit. Suatu produk  berkembang tidak mengikuti kurva linier, melainkan kurva yang menukik tajam ke atas, itulah makna Tipping Point dalam buku tsb. Perubahan yang mendadak. Layaknya mengapa penyakit diare tiba-tiba menjangkit banyak orang padahal bulan sebelumnya ga banyak orang yang menderita, atau sepatu Crocs yang tiba-tiba mewabah sampe ada KW 4 nya dibeli sama anak-anak di kampung buat dipake pas lebaran padahal lebaran sebelumnya sepatu ini belum ada.

Sebagai fakta yang nyata, saya coba berbagi data dari buku tersebut. Contohnya penjualan sepatu Airwalk pada era 90-an di Amerika. Awalnya sepatu itu dirancang memang khusus buat pemain skate; secara gitu namanya juga Airwalk, istilah buat gayanya Tony Hawk pas loncat dari ujung tanjakan. Pemain skateboard amat tergila-gila dengan sepatu ini. Airwalk berhasil menciptakan konsumen fanatik -yang setiap mau lomba skate- sepatunya ini dipakai. Di awal 90-an pendapatannya mencapai 13 juta dolar setahun.

Lalu Airwalk banting setir, ia mencoba mencari segmen lain di pasaran; bukan cuma penggemar skate. Akhirnya, singkat cerita, lewat segala rekayasa marketing dan inovasi produk, Airwalk meledak. Di tahun 1993 pendapatannya 16 juta dolar. Tahun 1994 mencapai 44 juta dolar. Tahun 1995 melonjak ke 150 juta dolar, kemudian tahun berikutnya 175 juta dolar. Inilah fenomena Tipping Point. Garis regresinya ga bisa dibuat linier. Dari tahun ke tahun melonjak secara berlipat.

Satu lagi teorinya; yaitu analisis model sebaran suatu produk, bagaimana produk/gagasan baru dapat diterima oleh konsumen. (sabar, MRI-nya bentar lagi dibahas).

Ceritanya tentang penyebaran benih jagung hibrida di Iowa. Di daerah tersebut benih ini diperkenalkan tahun 1928. Benih ini tidak langsung memasyarakat. Tahun 1933, dari 259 petani yang disurvei ternyata hanya sebagian kecil petani yang mulai memakai benih tsb, hanya sebanyak 21 orang. Tahun berikutnya bertambah menjadi 37 petani yang menanamnya, tahun berikutnya 58, lalu 94, lalu 158, lalu 204, kemudian 240, 254, dan 257. Di tahun 1941, hanya 2 orang petani yang tidak menanamnya!

Dalam ilmu distribusi persebaran, dari kejadian di atas, kita mengklasifikasikan 4 tipe kelompok orang. Yang pertama adalah innovator, yaitu kelompok yang punya semangat petualang. Seperti petani generasi awal di atas. Mereka mulai memakai produk baru dengan memikirkan segala risikonya. Yang kemudian terpengaruh di tahun berikutnya disebut Early Adopter. Dua kelompok ini adalah kelompok revolusioner. Mereka menginginkan sesuatu yang secara kualitatif membedakan mereka dari yang lain. Kemudian kelompok berikutnya adalah Early Majority yaitu petani yang mulai ikut-ikutan nanem benih jagung hibrida setelah tetangganya berhasil. Kelompok ini biasanya merupakan bagian terbesar dalam komunitas. Mereka sebenarnya enggan berubah dan memakai produk baru. Mereka menunggu orang mencobanya. Jika berhasil mereka ikuti jika tidak ya syukur-syukur aja. Terakhir adalah golongan Last Majority yang perlahan-lahan melihat dan mempredisikan kemajuan produk; jika trendnya positif mereka akan ikut.

 Naah, hubungannya sama MRI, dahsyatnya nih brader.sister, selama ini kita mempelajari inovasi produk di prodi MRI, di sisi lain, sadar ga sadar nyatanya MRI itu sendiri merupakan sebuah produk inovasi bagi dunia ilmu pengetahuan maupun kebutuhan masyarakat di Indonesia.

So, in the same time; kita berada dalam sebuah kapal besar inovasi produk dan sedang mempelajari inovasi produk di dalamnya. Dahsyat bukan?? Maka dari kaidah epidemi di atas, yakinlah tak lama lagi MRI akan mewabah; dengan kita sebagai Early Adopternya (Innovatornya God Father kita Pak Ari tentunya). Kita menjadi para pelopor yang keluar dari mainstream orang kebanyakan. Tanpa sedikit pun menyudutkan pihak-pihak yang dari dalam hatinya terdalam memang memilih jurusan yang dikehendakinya. Mendengar keluhan orang tua dan kerabat “Teteh, kalo teteh masuk jurusan baru mah nanti bingung habis lulus kerjanya mau ngapain?” atau pertanyaan polos adik-adik 2010 dan adik-adik SMA kita “MRI sama SBM teh apa bedanya, kang?”.

Karena kita mencoba berpikir revolusioner, walaupun ada juga yang berupaya mencari peruntungan dengan status yang disandang sebagai angkatan pertama. Hehe.

The last is…

Kita harus berhati-hati. Tulisan tentang Airwalk di atas belum berakhir. Ternyata setelah mengalami lonjakan Tipping Point di atas, beberapa tahun sesudahnya Airwalk turun lagi popularitasnya bahkan hampir bangkrut di 1997. Walau sempat naik di rating persepatuan dunia, urutan ketiga di bawah Nike dan Adidas. Airwalk tidak bisa memenuhi kebutuhan pelanggan. Sepatunya tidak lagi eksklusif bagi pemain skate karena mulai menjadi sepatu yang umum di pasaran Amerika (Mungkin di Indonesia mah kaya Starmon atau New Era) sehingga lambat laun ditinggalkan oleh konsumen. Minimnya inovasi dan rekayasa marketing bisa jadi faktor penyebabnya.

Seperti itu pula MRI. Yakinlah tak lama lagi ia akan menjadi tren. Namun jika tanpa marketing yang baik ia akan hilang begitu saja, seperti Sinta-Jojo yang mulai turun popularitasnya walaupun main di iklan Sosis. Bahkan bisa jadi juga tren ini langsung turun sebelum mengalami Tipping Point. Maka, kita sebagai pemasarnya, sebagai salesnya, tentu harus berjuang segenap jiwa raga hingga darah tertumpah untuk memasarkan produk ini (MRI).

Kepada kerabat kita, adik-adik FTI 2010, adik-adik di almamater SMA kita, bahkan sampai ke jejaring maya, mari kita wabahkan MRI. Jadikan ia epidemi. Kongkritnya dengan terus mengembangkan disiplin ilmu MRI itu sendiri (banyak baca buku) dan yang lebih penting mengaplikasikan ilmunya dimanapun kita beraktualisasi diri. Agar MRI memang diklaim menjadi kebutuhan bangsa dan industri dewasa ini, mari buktikan, bahwa keberadaan MRI dapat menjawab tantangan-tantangan bangsa dan perindustrian.

Karena kita keluarga,

Liberte, Egalite, Fraternite…

Selamat hari sumpah pemuda.

Cheers.